Beberapa waktu terakhir, ada satu pemandangan yang cukup menarik dalam percakapan di grup WhatsApp. Ketika seseorang menyampaikan kabar duka—misalnya tentang anggota keluarga yang meninggal dunia—pesan itu biasanya segera diikuti oleh berbagai respons dari anggota grup.
Namun menariknya, sebagian respons tersebut tidak lagi berupa kalimat panjang.
Sebagian orang menuliskan doa.
Sebagian mengirimkan pesan singkat.
Dan cukup banyak yang merespons dengan stiker doa.
Fenomena yang sama juga terjadi ketika kabar bahagia dibagikan: kelahiran anak, ulang tahun, promosi pekerjaan, atau pencapaian tertentu. Alih-alih menulis ucapan panjang, banyak anggota grup memilih mengirimkan stiker bertuliskan “Selamat”, “Barakallah”, atau simbol doa dan kebahagiaan lainnya.
Dalam satu sisi, fenomena ini terasa sangat khas dari budaya komunikasi digital masa kini: emosi dan empati sering kali disampaikan melalui simbol visual yang sederhana.
Stiker menjadi bahasa baru dalam percakapan digital.
Dalam kajian komunikasi, fenomena ini dapat dipahami melalui konsep Computer-Mediated Communication (CMC) yang banyak dibahas oleh Joseph B. Walther. Walther menjelaskan bahwa ketika komunikasi dilakukan melalui media digital, bentuk ekspresi manusia sering mengalami perubahan.
Karena tidak ada ekspresi wajah, intonasi suara, atau bahasa tubuh, pengguna media digital kemudian mengembangkan berbagai cara alternatif untuk menyampaikan emosi—mulai dari emoji, GIF, hingga stiker.
Stiker dalam konteks ini berfungsi sebagai pengganti ekspresi nonverbal dalam komunikasi tatap muka.
Ketika seseorang mengirimkan stiker doa, sebenarnya ia sedang mencoba menyampaikan empati atau simpati, meskipun tidak dalam bentuk kalimat yang panjang.
Namun di sisi lain, fenomena ini juga menghadirkan pertanyaan yang cukup reflektif: apakah respons dalam bentuk stiker selalu mampu mewakili kedalaman emosi yang ingin disampaikan?
Dalam komunikasi tatap muka, ketika seseorang mendengar kabar duka, respons biasanya disertai ekspresi wajah, nada suara yang lembut, atau bahkan kehadiran fisik untuk memberikan dukungan. Semua elemen tersebut memperkaya makna empati yang disampaikan.
Namun dalam komunikasi digital, banyak elemen tersebut tidak hadir.
Karena itu, simbol visual seperti stiker menjadi cara cepat untuk menyampaikan reaksi emosional.
Fenomena ini juga dapat dilihat melalui perspektif Media Richness Theory yang dikembangkan oleh Richard L. Daft dan Robert H. Lengel. Teori ini menjelaskan bahwa setiap media komunikasi memiliki tingkat “kekayaan” yang berbeda dalam menyampaikan pesan.
Komunikasi tatap muka dianggap sebagai media yang paling kaya karena mampu menyampaikan pesan verbal dan nonverbal secara bersamaan. Sementara itu, pesan teks atau simbol digital memiliki kapasitas yang lebih terbatas.
Dalam konteks ini, stiker sebenarnya adalah upaya pengguna untuk menambah dimensi emosional pada media komunikasi yang relatif terbatas.
Namun karena sifatnya yang cepat dan sederhana, stiker juga berpotensi membuat ekspresi empati menjadi sangat ringkas.
Kadang cukup satu klik.
Kadang cukup satu gambar.
Kadang cukup satu simbol.
Bagi sebagian orang, ini merupakan bentuk respons yang praktis dan tetap menunjukkan kepedulian. Tetapi bagi sebagian lainnya, respons seperti ini bisa terasa terlalu singkat untuk situasi yang sebenarnya sarat makna emosional.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana budaya komunikasi terus berubah seiring dengan perkembangan teknologi.
Di satu sisi, teknologi memudahkan kita untuk merespons dengan cepat dan tetap terhubung dengan banyak orang. Di sisi lain, bentuk komunikasi yang semakin ringkas kadang membuat ekspresi emosi menjadi semakin sederhana.
Namun mungkin yang paling penting bukan hanya bentuk pesan yang dikirimkan, tetapi niat dan perhatian di baliknya.
Sebuah stiker doa bisa menjadi tanda kepedulian yang tulus.
Namun dalam beberapa situasi, mungkin kita juga perlu meluangkan sedikit waktu untuk menuliskan kalimat yang lebih personal.
Karena pada akhirnya, dalam momen-momen yang paling emosional—baik duka maupun bahagia—yang sering kali paling dibutuhkan oleh manusia bukan hanya respons yang cepat.
Tetapi perasaan bahwa ia benar-benar diperhatikan oleh orang lain.
—
Referensi
Walther, J. B. (1996). Computer-Mediated Communication: Impersonal, Interpersonal, and Hyperpersonal Interaction. Communication Research, 23(1), 3–43.
Daft, R. L., & Lengel, R. H. (1986). Organizational Information Requirements, Media Richness and Structural Design. Management Science, 32(5), 554–571.
Baym, N. K. (2015). Personal Connections in the Digital Age. Polity Press.
Herring, S. C. (2013). Discourse in Web 2.0: Familiar, Reconfigured, and Emergent. In The Handbook of Discourse Analysis. Wiley-Blackwell.