Oleh: Dr. Abdul Latief
Praktisi Komunikasi Keluarga dan Dosen LSPR Communication & Business Institute
“Apakah kamu merasa sakit?”
Pertanyaan sederhana itu diucapkan Baymax—robot berbadan besar, berhati lembut—kepada Hiro Hamada, seorang remaja jenius yang baru saja kehilangan kakaknya. Adegan ini kami tonton berdua: saya dan Salman, anak saya yang kini berusia tujuh tahun.
Film Big Hero 6 memang dirilis jauh sebelum Salman lahir, tepatnya tahun 2014. Tapi di rumah, kami punya kebiasaan menonton film-film lama yang punya makna mendalam. Sebab saya percaya, cerita yang baik tak pernah kedaluwarsa. Apalagi jika ia bisa menjadi medium untuk membangun komunikasi dengan anak, mengajarkan nilai kehidupan, dan memperkuat kedekatan emosional.
Ketika Robot Mengajari Kita Menjadi Orang Tua
Baymax bukan sekadar karakter fiksi. Ia adalah cermin ideal bagi orang tua—tenang, sabar, tidak reaktif, dan selalu hadir. Dalam dunia nyata, menjadi seperti Baymax memang tidak mudah. Tapi bukan berarti mustahil.
Saya teringat pandangan John Gottman dalam bukunya Raising an Emotionally Intelligent Child (1997). Ia menyebut bahwa peran orang tua bukan hanya memberi aturan, melainkan menjadi pelatih emosi (emotion coach) bagi anak-anaknya. Mereka harus hadir untuk mendampingi, memahami, dan memberi ruang pada emosi anak, terutama saat mereka mengalami kehilangan, kekecewaan, atau kemarahan.
Baymax, dengan segala kesederhanaannya, menjadi contoh nyata bagaimana hadir secara emosional lebih penting daripada menawarkan solusi.
Salman dan Percakapan Setelah Film Usai
Usai menonton, Salman bertanya, “Ayah, kenapa Hiro sedih banget waktu kakaknya hilang?” Saya menjelaskan dengan perlahan, bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup. Tapi di saat yang sama, kita bisa menemukan kekuatan baru dari kehilangan itu—seperti Hiro yang akhirnya membentuk tim pahlawan bersama teman-temannya.
Lalu Salman berkata, “Kalau aku kehilangan Ayah, aku sedih banget.”
Momen itu menjadi ruang komunikasi yang dalam bagi kami. Di luar skrip film, Big Hero 6 menjadi penghubung antara ayah dan anak untuk berbicara soal kehilangan, cinta, dan pentingnya saling menjaga.
Pelajaran tentang Emosi, Empati, dan Kolaborasi
Dalam kajian komunikasi keluarga, film ini sangat kaya akan nilai edukatif. Hiro menunjukkan bagaimana anak bisa memproses duka secara berbeda: dengan marah, dengan menarik diri, bahkan dengan keinginan balas dendam. Tapi di sisi lain, ia juga belajar bahwa memiliki teman, membangun tujuan baru, dan mengenang kebaikan orang yang kita cintai adalah cara yang sehat untuk bangkit kembali.
Big Hero 6 juga menyuguhkan pentingnya kolaborasi. Dalam keluarga, ini adalah pengingat bahwa setiap anggota keluarga punya peran. Anak bukan hanya objek pengasuhan, tapi subjek yang bisa diajak berpikir, berdiskusi, bahkan bertumbuh bersama.
Menjadi Baymax untuk Anak Kita
Menyaksikan Baymax yang tanpa lelah mendampingi Hiro, saya diingatkan bahwa sebagai orang tua, tugas kita bukan menjadi sempurna—tetapi hadir secara konsisten. Hadir untuk menyimak, hadir untuk mendengar, dan hadir untuk memberi pelukan saat anak kita butuh ruang aman.
Dalam kehidupan nyata, tak ada chip kesehatan seperti di film. Tapi kita punya hati dan telinga. Dan itulah alat komunikasi paling ampuh dalam keluarga.
Penutup: Film sebagai Medium Komunikasi Keluarga
Film seperti Big Hero 6 bisa menjadi jembatan komunikasi antara orang tua dan anak. Cerita yang hangat, tokoh yang relatable, dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal membuat film ini relevan ditonton bersama, bahkan bertahun-tahun setelah dirilis.
Bagi saya dan Salman, malam itu bukan sekadar menonton. Itu adalah waktu yang memperkuat ikatan, membuka ruang diskusi, dan meneguhkan bahwa dalam keluarga, selalu ada Baymax—yang siap hadir, kapan pun dibutuhkan.
Referensi:
Gottman, John. Raising an Emotionally Intelligent Child. Simon & Schuster, 1997.
Nelsen, Jane. Positive Discipline. Ballantine Books, 2006.
Walt Disney Animation Studios. Big Hero 6, 2014.